Posted by : Unknown Selasa, 19 Mei 2015



Langit senja yang cerah di sore hari, angin semilir melintasi jiwa dan raga memukul sukma seakan menyuruhku untuk memeluknya, gedung-gedung menjulang tinggi untuk menjadi saksi, burung-burung berkicau untuk menemani dan langit senja menjadi teman sejati di penghujung hati. Aku berjalan di tengah lalu lalang manusia dan melihat wajah-wajah para penyair dan pemikir yang tak asing lagi untuk di pandangi mata, aku duduk di teras pendopo yang sudah biasa menjadi tempat peristirahatan setelah mengkaji ilmu dari para ahli sufi.

Di kejauhan aku melihat seseorang perempuan berbaju merah dan berkerudung merah, memakai jeans hitam dengan postur tubuh yang sudah tak asing lagi bagiku, dirinya sedang duduk membaca sebuah buku sambil ketawa di temani para sahabatnya itu, karena aku mulai penasaran ingin melihat paras wajahnya, akhirnya aku beranjak berdiri dan menghampirinya. Aku berjalan menuju kepadanya, lalu setelah di dekatnya aku berkata “heeyy” kemudian dia melirik ke arahku sambil tersenyum kepadaku. Dan ternyata memang benar filingku, ternyata perempuan itu adalah teman hatiku.yang selalu aku lukis wajahnya dengan bias-bias jingga di langit senja. “permata sedang apakah engkau di sini?..” kemudian dia menjawab “aku lagi belajar bersama sahabatku, lantas kaka juga lagi ngapain di sini?..” ohhh.. aku tadi baru saja keluar kelas..”. tiba-tiba saja sahabatnya memotong percakapan kami “ permata kita duluan pulang yaa !! soalnya kita mau mengerjakan tugas dari dosen..” “ya sudah kalo kalian mau duluan, ntar aku menyusul.” Jawab kekasih hatiku pada sahabatnya, kemudian mereka beranjak pergi dari pendopo itu. “ kakak sudah makan..?” tanyanya padaku. “ iyah sudah tadi sebelum masuk kelas kakak sempatin dulu untuk makan siang, kamu sendiri sudah makan?..“ “ sudah kak.” Jawabnya. Kemudian aku duduk dan memberi senyuman hangat untuknya di hari itu.

Di bawah langit senja, perasaan yang indah menghantui jiwa dalam diri memanjakkan hati ku yang sedang merah jambu, lau angin bertiup dengan sayu menyapa raga, rumput rumput bergoyang bergerak penuh tanya dan semburat jingga menemani kami di kala sore senja. Akupun mulai membuka percakapan dengannya..

 “permata apa yang kau lihat, kenapa pandanganmu melihat keatas?..” tanyaku padanya

“kakak tau tidak, kenapa setiap awan yang aku lihat selalu berubah bentuk, terkadang dia seperti gambar manusia, kemudian berubah lagi menjadi hewan dan seterusnya berubah-ubah dalam bentuk lainya.?” aku sedikit bingung untuk menjawabnya, takut salah dan memang akupun tidak tahu filosofi awan itu seperti apa dan gimana, mataku mulai merasa malu kali ini karna tidak bisa menjawab, tapi aku coba untuk mengalihkan pembicaraannya.

“permata apakah engkau pernah tahu kenapa kakak selalu ada di sini setiap sore menuju senja..?” tanyaku sambil mengalihkan pertanyaannya yang tadi

“tidak.!, memangnya kenapa kak.?..”

“sebentar ya, kakak kebelakang dulu, kamu tunggu di sini..” lalu aku berdiri dan pergi ke taman depan untuk mememtik sebuah mawar,

Tak lama kemudian aku balik lagi kembali padanya setelah aku mendapatkan bunga mawar itu, lalu menghampirinya dan berdiri di depannya sambil menyembunyikan mawar itu di belakangku,

“permataku bolehkah aku membacakan sebuah syair untukmu.?.”

“hahh,!!”dengan sontak dia kaget lalu dia mengangguk sambil menutupi mulutnya dengan kedua tangannya, kemudian aku membacakan sebuah syair romantisme cinta sambil aku memberikan bunga mawar merah itu untuknya, setelah itu aku duduk kembali di dekatnya.
Ketika aku melihat paras wajahnya aku melihat air mata yang sudah membasahi pipinya, akupun bingung dan bertanya kepadanya,

“permata ada apa, kenapa engkau menangis..?” tanyaku padanya, kemudian dia malah melihatku dan memegang tanganku sambil berkata 

“ terimakasih kakak, engkau sangat baik, begitu perhatian dan kasih sayangmu begitu besar hingga jiwaku tak mampu tuk menampungnya, kau begitu indah seperti senja di sore ini,.”

Jiwaku bergetar, hatiku tersentuh oleh kata-katanya yang menusuk hingga kedalam sukma, aku semakin mencintainya dan menyayanginya, ohh.. permata kasihku
Setelah hampir 1jam lebih kita berada di sana sang mentaripun sudah sepenuhnya kembali pada peraduan dan mengakhiri indahnya hari ini di pelukan senja, Langit senja perlahan mulai pudar menjadi langit malam, kamipun pergi untuk pulang dan aku mengantarkanya terlebih dahulu ke tempat kostnya..


Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Copyright © 2013 manuskrip kehampaan | Dark Simple Blogger Template Powered by Blogger | Created by Renadel Dapize | Ori. BRS-bt Djogzs | All Rights Reserved