- Back to Home »
- cerpen »
- Dukun Gunung Kembar
Posted by : Unknown
Sabtu, 08 Maret 2014
Dari kecil Babot sudah tidak terlalu percaya dengan tahayul, apa lagi sama dukun atau paranormal, tapi mendengar cerita dari Arman temannya itu, katanya ada dukun yang jago dalam hal perjodohan, bisa memberi tahu jodoh kita cukup hanya dengan melihat kartu, mendengar perkataan arman babot mulai merasa penasaran, ingin sekali menanyakan dan pergi ke tempat dukun tersebut, sudah menjadi tekad babot gimanapun caranya dia harus cepat-cepat mendapatkan jodoh, gak kerasa umurnya sudah tiga puluh tujuh tahun, masa mau di bilang bujang lapuk, selain malu babot sudah bosan dengan kehidupannya yang sendiri saja, mana kasian melihat ibu yang sudah lama menantikan kedatangan seorang menantu.
Arman begitu semangat dan giat sekali ketika mengajak babot untuk pergi ke tempat dukun itu, karna tekad yang sudah bulat mau menanyakan siapa jodohnya, babotpun pergi ikut arman, kata arman nama dukun itu adalah Nyi Tarsih, bahkan dirinya juga bisa medandani orang, rumahnya jauh dari jalan raya, apa lagi jalanya sangat rusak, kecil dan berbelok-belok serta banyak sekali dedaunan yang jatuh ke jalan, bahkan mobil saja tidak bisa masuk ke dalam.
Arman sepertinya sudah mengenal situasi dan kondisi keadaan di sini, ketika kita sudah sampai di rumah si dukun arman langsung masuk saja membuka pintu rumah tanpa ijin atau mengetuk pintu dulu, babotpun langsung mengikuti arman di belakangnya,
“duduk nak Arman” katanya dari dalam kamar
tak lama kemudian kita berduapun langsung duduk di kursi yang hanya ada satu stel saja, mejanya yang tidak memakai baju, sudah bergoyang, keliatan meja yang sudah tua dan lama. rumahnya cukup menyeramkan,
“ehh.. nak Arman, berdua sama siapa?” katanya
saya hanya diam melihat Nyi Tarsih kira saya dia seorang nenek-nenek, ternyata dia masih bahenol dan tidak terlalu tua,
“ada maksud apa ke sini?” katanya, saya hanya menganggukan kepala saja
“ini ada bujang tua Nyi, pengen nanyain jodohnya”
“saya tidak bisa apa-apa apalagi menanyakan jodoh”ucapnya, biasa cuman pura-pura saja padahal dalam hatinya ngaku kalo dia punya keahlian.
“tapi kita coba lah lihat dari kartu, nih kartunya kocok dulu” ujarnya sambil memberikan segepok kartu,
saat mengocok kartu dia tidak berhenti bercerita dan menyakan bulan, tanggal lahir, dan weton, saya jawab sambil mengocok kartu.
waktu di kasih tanda berhenti sayapun langsung berhenti dan memberikan kartunya ke Nyi Tarsih, kartu di jajar-jajarkan di depannya sambil matanya tertutup. Kalo seandanya Nyi Tarsih memakai rok, rambutnya di rapihkan, terus memakai make up serta bersolek rasanya ga pantas menjadi seorang dukun, dalam hati saya
“wetonnya hari minggu?” saya hanya mengangguk
“biasanya weton yang hari minggu suka tidak mau di dahului, maunya di manja-manja terus, tapi ada bagusnya suka mau menolong orang lain dari kesusahan”
“di lahirkannya bulan November ya.?” Saya hanya mengangguk, kenapa dia tahu? Apa emang bener dia bisa membaca kartu, kemudian dia melihat lagi kartunya.
“jodohnya sudah dekat, cuman terhalang oleh sifat nak babot sendiri” saya hanya diam gak ngerti, maksudnya gimana, jodoh sudah dekat tapi terhalang oleh sifat?
“iyah.. terlalu banyak perasaan malu, padahal sudah banyak wanita yang sudah siap buat jadi istri nak babot sendiri, katanya sambil terus membereskan kartu yang menjajar tadi, yaa memang benar sihh saya pemalu soalnya gigi saya yang terlalu menonjol ke depan membuat saya tidak ada keberanian.
kata Nyi Tarsih jodoh saya sudah dekat sebentar lagi saya bisa mempunyai istri, badannya tinggi, rambutnya pendek di bawah pundak, pasti ketemu di jalan kalau hari ini saya pulang jalan kaki, di mana entar kalau ada pohon kelapa besar duduk dulu sebentar dan makan sepahan di sana, pasti akan ada wanita melewat dan syaratnya harus di tanya duluan jangan malu.
menggampangkan saja Nyi Tarsih ini, anehnya hati ini mau saja nurut apa yang di suruh oleh dukun tadi, merasa penasaran takut benar apa yang di sampaikan Nyi Tarsih, Wallohualam, apa gara-gara karna saya sudah tidak kuat ingin sekali memiliki seorang istri, apa karena terkena sugesti dari Nyi Tarsih.
Mobil biarkan saja di bawa oleh Arman dan menyuruhnya menunggu di pinggir jalan raya, babot terus berjalan menyusuri jalan kecil sambil melihat-lihat dan mencari pohon kelapa. Semoga saja tidak bertemu murid di jalan, apa katnya kalau melihat guru IPA pergi ke dukun, masa sarjana muda percaya sama dukun. Sepanjang jalan babot berpikir, bukanya saya tadi di interview saat mengocok kartu, gak kerasa padahal pertanyaan Nyi Tarsih itu lebih ke identitas diri sendiri, pantas saja kalo dia tahu, sayanya saja yang bodoh terhipnotis oleh gunung kembar miliknya.
banyak juga yang melewat ke sana tapi saya belum melihat apa yang di gambarkan tadi oleh Nyi Tarsih, tak lama kemudian datang seorang wanita yang sengaja tampil dan berdiri dekat saya,
“nungguin siapa mas?” dirinya mendahului bertanya
babot hanya bengong, bingung mau jawab apa, dirinya saja tidak tahu menunggu siapa, masa mau bilang nungguin jodoh. Tapi wanita itu bertanya lagi akhirnya babotpun menjawab
“nungguin teman” babot membohong
“sendiri?”
“iyah”
babot maunya nanya lagi, tapi rasa malu yang ada dalam dirinya itu susah untuk di hilangkan, sudah lama babot dan wanita itu berdiri di sini, tak lama kemudian ada lagi seorang wanita yang datang sambil tersenyum,
“gimana ada gak?” kata yang baru datang
“gak ada”
“masa sih Nyi surti bohong, biasanya juga suka benar” babot kaget, padahal dirinya juga habis pulang dari Nyi Tarsih, mungkin ini jodoh babot tapi kenapa masih beda juga dengan apa yang di gambarkan,
“mungkin ini orangnya” yang baru datang sambil membisikan
“ahh kata Nyi Surti juga orangnya ganteng, kalo ini giginya aja offside”
babot merasa lemas sekali ketika mendengar pembicaraan mereka, sambil memegang giginya,
“uuh,, dasar dukun kartu waduk, katanya bisa memberi jodoh dan mendandani orang” katanya
“wah kalo seandainya bisa juga, dandanin aja diri sendiri, dirinya juga jomblo sudah empat puluh tahun gak kawin-kawin” sambil pergi begitu saja wanita itu
kini babot hanya diam sendiri tanpa ada seorangpun melewati jalan itu,
“ahh.. Nyi Tarsih gunung kembarnya” sambil pergi menghampiri Arman.
.
.jpg)